Wuaah,setelah 3 jam berkutat depan komputer akhirnya jadinya juga cerpen ini,
cuma mau bagi aja siapa tau ada yang mau baca,yang ga mau baca juga gapapa
Lantunan Piano Terakhir
by : Bimo Setiotomo
Greece,begitulah aku biasa dipanggil,aku hanyalah seorang anak remaja berusia 15 tahun yang sangat fanatik dengan musik klasik,terutama piano,entah kenapa,rangkaian not balok yang dimainkan dalam piano sering kali membuat euforia,efek candu dalam memainkan piano seringkali membuatku melayang dari dunia ini,pergi ke dunia fantasi,hanya aku dan piano.Tentu saja,aku tidak auto-deduct mempelajari piano klasik,Ibu Margarethlah yang mengajarkanku bagaimana cara memainkan piano klasik dengan penuh penghayatan,bahkan aku ingat pertama kali diajari olehnya,ia menyuruhku untuk memainkan semua oktaf yang ada di piano,dan mencari lantunan nada yang cocok dengan kepribadianku,sama seperti film Happy Feet ,tapi perbedaannya ini adalah hal nyata,jelas sangat sulit dilakukan,tapi setelah berhasil menyatu dengan piano tersebut,tidak ingin sekalipun aku menyia-nyiakan waktu luang untuk tidak bermain piano,not-not balok pada buku pianopun terlihat seperti rajutan baru,rajutan perasaan yang terbayang ketika memainkan lagu piano tersebut
Pagi ini,aku disibukkan oleh ibuku,Si “Madam Barbele”,aku disuruh untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga sebelum aku berangkat sekolah.ia selalu saja memperlakukan berbeda dengan kakakku,Greton & Ganice,mereka berdua selalu saja dimanjakan seperti tidak ada wadah lagi bagi ibuku untuk menumpahkan rasa sayangnya,padahal masih ada aku yang merasa haus akan sentuhan tulus seorang ibu,yah,tapi apa boleh buat ? Ibuku selalu menganggapku gila sejak aku memainkan piano hingga larut malam,sering tidak makan,dan tidak tidur,dan aku memang termasuk orang Introvert yang tidak suka berhubungan dengan orang lain,termasuk keluargaku sendiri,tapi apakah harus terjadi diskriminasi dalam keluarga ? Andai saja ibu margareth adalah Ibu kandungku,tentulah di rumah akan terasa seperti surga bagiku,sayang sekali,kehidupanku yang mewah menjadi terasa hampa akibat hubunganku dengan Ibuku tidak baik.Tapi setidaknya kedua kakakku sangat baik padaku.
Setelah selesai melakukan semua perintah,langsung saja aku berangkat ke sekolah musik terkenal di kotaku,sekolah “Soul of Sound”,di sekolah ini memang menyenangkan,karena mereka semua adalah fanatik musik sepertiku,tapi sayangnya,mayoritas di sekolahku Introvert sehingga wawasan pergaulan sangat tidak terbentuk di sekolah musik ini,meskipun begitu aku tetap menikmati sekolah disini ,karena disinilah tempat aku bisa memuaskan hasrat untuk terus mengeksplorasi alat musik,khusunya piano klasik,untuk terpilih menjadi murid disinipun cukup unik,disini akademis tidak pernah menjadi tolak ukur masuk tidaknya seseorang menjadi murid disini,yang dilakukan adalah sebuah tes yang sangat sulit tapi asyik dilakukan bagi orang-orang sepertiku,yaitu seluruh siswa yang terdaftar akan dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok harus bisa menghasilkan sebuah lagu lengap dengan aransemennya,dimana spontanitas diperlukan.Tapi anehnya,secara ajaib Aku dan teman-teman sekelompok berhasil membuat 3 lagu dengan aransemen yang sangat berbeda satu sama lain.Sangat kagum aku dengan ketua kelompok kami saat itu,Anthony namanya,Ia lah yang mengatur aransemen dasar untuk kami dan meminta kami untuk berimprovisasi sesuai dengan perasaan kami,dan alhasil,kelompok kami lulus semua,dengan urutan 5 besar.
Pelajaran pertama sudah dimulai,aku bergegas pergi ke kelasku pagi ini,karena guru pada pelajaran pertama hari ini adalah Ibu Margareth,Ia mengajarkan di kelas “Penjiwaan Musik”,sebenarnya ini adalah salah satu pilihan yang harus dipilih dari 2 Pilihan lain,Kelas “Ritmesasi Musik” dan “Komposer Lagu” yang keduanya tidak menarik diikuti,Ibu Magareth selalu menyampaikan materi pelajaran dengan sangat menarik,dia seringkali menggabungkan gerakan tangan,kaki,dan pinggul ketika mengajari materi penghayatan emosional,yang biasanya menghasilkan suatu pertunjukkan piano klasik dengan koreografi yang indah,”Greece !”,”Iya bu ?” Ibu margareth memanggilku,”Tolong kamu praktekkan sebuah cara memainkan piano dengan full-emotion”,langsung saja jemariku bermain tanpa henti,kuikuti gerakan tubuhku dengan lagu tersebut,kubiarkan saja nada-nada mengalir di nadiku,impuls syarafku meloncat kemana-mana,tak sadar aku pun bermain piano sambil berdiri di atas piano dengan mata tertutup,yah,panggil saja aku penggila piano,memang itu kenyataannya,”cukup,terimakasih nona Greece”,kemudian sorak dan tepuk tanganku teman-teman di kelaspun riuh.
Begitulah keseharianku di SMA Soul of Sound ini,diawali dengan kelas pilihan,kemudian masuk ke dalam teori dan praktek langsung,bel istirahatpun berbunyi,akupun langsung menuju kebun sekolah untuk menikmati makanan di kafetaria,yang menurutku terlalu lezat untuk dilewatkan. Tak lama kemudian muncul Anthony,ketua kelompok musikku yang sangat aku kagumi, “Bolehkah aku duduk di sebelahmu,Greece ?”,”Oke,silahkan”,kamipun berbincang mengenai isu isu hangat yang terjadi,tiba-tiba ia teringat akan diadakan konser besar di SMA Soul of Sound,dan mengajakku untuk mengisi acara tersebut sebagai pemain piano solo,aku langsung menolaknya,karena mana mungkin aku yang diperlakukan seperti pembantu bisa mendapat izin dari ibuku sendiri untuk latihan konser “Mighty Sound,Righty Soul”,konser ini bertujuan untuk menggalang dana penderita kanker,AIDS,Tumor dll. Aku pun pulang dan memilih untuk memikirkan lebih lanjut tawaran tersebut.
Setibanya di rumah,Aku melihat ibuku,Si Madam Barble sedang membereskan rumah,dan seperti yang aku duga “Greeeeeece ! Ayo donk,jangan bisanya main piano aja,bantuin nih !”,”Iya bu”,Sebenarnya aku sudah lelah diperlakukan seperti ini,tapi apa boleh buat ? Aku hanya ingin mencoba berbakti pada orang yang sudah melahirkanku.Kemudian aku langsung ke lantai atas,untuk ke kamar kakakku,”Kak Greton,Kak Ganice,Boleh bertanya gak ?” “Ada apa adekku sayang ? Kamu terlihat pusing sekali ?” Kemudian aku langsung duduk di kasur empuk warna hijau muda,di sebelah kakakku,”Ini kak,aku diajak untuk tampil menjadi pianis solo pada acara konser di sekolah”, “Lalu apa masalahmu ?”,sambil menelungkupkan kepala aku berkata “Aku ingin sekali ikut,tapi ibu pasti tidak akan mengijinkanku untuk berlatih disekolah hingga malam,bahkan mungkin untuk ikut konser itu”,”Kenapa kamu berpikir begitu ? Coba dulu aja untuk meminta ijin pada ibu”. Aku pun turun kebawah untuk bertemu Ibu,”Ibu,boleh ga sekali saja aku ikut serta dalam konser untuk mengisi acara tersebut ? Boleh ya ? Mungkin aku akan pulang sedikit malam untuk itu”. “TIDAK BOLEH !!” Jawabannya yang sangat tegas dari Ibuku,”Kamu sering main piano sampai larut malam dirumah sendiri saja ibu sangat tidak suka,apalagi kalau di sekolah,tidak boleeeeh !!” Akupun sakit hati mendengar jawaban ibu yang seperti itu kasarnya. Aku langsung menangis dan lari ke kamarku,hah,tiba-tiba aku berpikir kenapa tidak kubantah saja ucapan ibuku itu,kemudian aku tetap nekat dan menelepon Anthony. “Halo,ini Anthony ? Aku cuma ingin bilang bahwa aku bersedia menjadi pianis solo pada konsermu itu”. Ya,mungkin aku memang melawan orang tua,tapi apa boleh buat ? Aku selalu berusaha baik tapi tidak pernah ibuku memberi balasan kasih sayang yang setimpal.
Besok pagipun aku langsung ke sekolah tanpa memberitahu ibuku,disekolah sudah berkumpul pemusik-pemusik berprestasi disekolahku,dan aku merasa bangga karena termasuk dalam golongan tersebut. Kami berlatih terus menerus dari pagi hingga sore hanya diselipkan istirahat makan siang,huah,sangat melelahkan tapi mengasyikkan. Kemudian sepulang latihan Anthony mengajakku makan malam disebuah restoran jepang kesukaannya yang letaknya tidak jauh dari sekolah. “Greece,Apakah orang tuamu mengijinkanmu untuk ikut serta mengisi acara ini ? Setahuku Ibumu adalah orang yang membenci musik”. “Yah,sebenarnya ibuku melarang,tapi aku sudah bosan dengan kelakuannya yang terlalu menekanku untuk berhenti bermain musik,aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu”. Kami melanjutkan makan malam kami dan Anthony mengantarkanku pulang.
Hari demi hari kujalani latihan intensif seperti itu sampai akhirnya Ibuku datang ke sekolah karena curiga aku sering pulang larut. “Oh,jadi kamu disini ya Greece ! PULANG SEKARANG !” bentaknya,aku pun tidak bisa berbuat apa-apa,karena dia sudah membawa pistolnya untuk mengancamku,ya,dia memang sedikit psikopatik,walaupun hanya sifat psikopatik itu hanya bekas masa lalunya,ya,dia adalah seorang pidana karena kasus pembunuhan,walaupun itu di masa lampau,tapi tetap saja hal itu sering membuatku takut pada ibuku. “Mulai sekarang,kalau ibu sampai tahu kamu bermain piano lagi akan ibu tembak kamu ! Ibu serius.” Bulu kudukku seketika bergidik,akupun segera tertidur lemas mendengar kata-kata ibuku.
Esoknya,aku dikurung dirumah tidak boleh pergi kemana-mana,hanya diberi makan dan minum agar tetap hidup,hampa,begitulah yang aku rasakan sekarang. Sudah 3 hari aku dikurung seperti ini,tidak ada piano yang merupakan jiwaku. Akhirnya aku kabur dengan memecahkan jendela kamar. “PRAAAANG “ Aku pun memecahkan kaca kamarku dan berlari ke sekolah untuk memainkan piano,aku tidak tahan lagi,sampai di sekolah aku pun menerobos kerumunan massa dan ternyata hari itulah konser digelar di sekolah,aku langsung naik ke atas panggung , mendorong pianis yang sedang bermain piano tunggal,lagu yang sama dengan yang kulatih secara intensif berminggu-minggu.Yah,pasti kamu sudah menganggapku gila karena over-fanatic terhadap piano,mungkin melebihi agama,aku mungkin sudah menuhankan piano,tapi apa dayaku ? Beginilah aku,menganggap piano sebagai belahan jiwaku. Tiba-tiba aku shock melihat ibuku ada di tengah-tengah penonton,dengan mata melotot. Ternyata ia mengikutiku ketika aku pergi ke sekolah. “DUARR !” . Ternyata... Apa yang diucapkan ibuku benar,dia menembakku,ya,tepat di tanganku. Aku pun langsung pingsan,lemas karena kehabisan darah,yang terkhir kudengar hanyalah bunyi “panggil ambulans !” dengan suara yang samar terdengar. Saat aku sadar,ternyata sudah seminggu aku pingsan,dan tanganku sudah hilang dari keberadaannya. Dokter memberi tahu bahwa tanganku harus diamputasi karena luka tembakan tersebut sudah menyerang arteri utama dan bahaya bila dibiarkan. Piano yang selama ini aku cintai sudah tidak mungkin aku sentuh,sekarang aku hanya bisa tinggal dirumah bersama ibuku yang ternyata “masih” psikopat.
::blogwalking:: bagus cerpennya, emang suka nulis cerpen apa tugas aja?
ReplyDeleteAstaga, ceritanya menyedot perhatian saya. Good job :D
ReplyDeleteSemangat terus menulis dan ngeblog ya!
@ Kak Ifa : makasih kak :D enggak,ini buat tugas
ReplyDeletebahasa Indo,tapi asik juga ternyata bikin
cerpen
@Indobrad : Oke,makasih banyak :)